business as usual

image

“Business as usual” biasa diungkapkan pada kondisi yang dianggap tidak biasa. Misalnya terjadi perubahan pada organisasi ataupun sosial politik, namun setiap posisi tetap difungsikan untuk mengerjakan segala sesuatunya seperti biasa. Dengan demikian business interruption tidak perlu ada dan para pemangku kepentingan dapat menjalani kondisi dengan nyaman.

Pada kondisi force majeur atau keadaan kahar istilah “business as usual” tidak relevan diterapkan. Sehingga segala aturan dapat dilangkahi untuk mengatasi keadaan dan memulihkannya. Walaupun keadaan kahar dapat dinyatakan secara sepihak sehingga masing-masing pihak berlepas diri dari tanggung jawab, masa berlakunya dibatasi hingga risiko dapat diminimalisasi. Pada praktik organisasi, pembubaran suatu fungsi atau seluruh badan dapat diibaratkan sebuah keadaan kahar. Pada saat itu terjadi kevakuman dan kebijakan datang secara top down sedangkan di fungsi melakukan hold and see sampai dengan terbentuk fungsi atau badan baru yang melanjutkan atau menghentikan pekerjaan.

Pada kondisi perubahan angin politik istilah “business as usual” tetap relevan selama belum mengarah kepada keadaan kahar. Tanggung jawab masih dapat diberlakukan untuk menjaga terpenuhinya kebutuhan masing-masing pihak. Dalam praktik organisasi, contoh “business as usual” adalah rapat-rapat teknis non keputusan, pekerjaan inspeksi, dan pekerjaan pengamanan, keselamatan kerja dan lingkungan.

3 thoughts on “business as usual

  1. Ping-balik: menantikan komite bipartit | bulet abang bulet ijo

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s