manajemen proyek, gagal?

pm2triangle

Statistik menunjukkan angka 20-30% saja proyek-proyek yang selesai tepat waktu dan kurang dari 10% proyek-proyek yang biayanya yang mengikuti angka anggaran. Sebagian besar proyek, waktunya molor dan biayanya membengkak. Akan tetapi bagi beberapa orang kenyataan ini tidak terlalu dipermasalahkan, padahal dampak yang besar terhadap biaya dan keberhasilan proyek. Jika begitu banyak proyek yang pemenuhannya terlambat dan biayanya membengkak, lalu di mana letak masalahnya?

Kebanyakan orang melihat manajemen proyek seperti orang buta melihat gajah. Dengan demikian tidak mampu melihat kegagalan proyek melalui perspektif sistem maupun holistik. Oleh karenanya diperlukan tools, teknik dan metodologi untuk membunyikan alarm ketika proyek yang sedang dikerjakan tiba-tiba diperkirakan gagal. Diperlukan kombinasi yang baik antara infrastruktur dengan personel supaya proyek berhasil. Setiap personel yang terlibat diharapkan merupakan yang kompeten di bidangnya masing-masing. Selain itu pula dibutuhkan keteladanan dalam kepemimpinan dan komitmen organisasi untuk menyelesaikan proyek tepat waktu dengan biaya yang wajar.

Untuk mencapai keberhasilan proyek bukan melulu menjadi tanggung jawab manajer proyek. Harus melihat gambaran besarnya, sebagai satu kesatuan antara tim yang bermain di dalamnya: pimpinan, manajer aset dan portfolio, manajer operasi, dan manajer proyek. Kerja sama yang baik di antara semua komponen ibarat orkestrasi musik, masing-masing bagian bertanggung jawab atas tugasnya. Bagaimanapun, diperlukan paradigma baru untuk kesuksesan: bukan dengan mengubah perilaku melainkan mengubah pola pikir, memberi penghargaan atas kinerja, bergotong royong, berdialog secara produktif dan gairah, serta adanya kepemimpinan.

merdeka!

Indonesian-flag-300x227

“Merdeka!” adalah sebuah kata yang dipekikkan dengan penuh semangat sebagai tanda kemerdekaan yang menjadi dambaan setiap manusia. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia:

mer·de·ka /merdéka/ a 1 bebas (dr perhambaan, penjajahan, dsb); berdiri sendiri: sejak proklamasi tanggal 17 Agustus 1945 itu, bangsa kita sudah –; 2 tidak terkena atau lepas dr tuntutan: — dr tuntutan penjara seumur hidup; 3 tidak terikat, tidak bergantung kpd orang atau pihak tertentu; leluasa: majalah mingguan –; boleh berbuat dng –; KBBI

Definisi tersebut menyatakan semua kata yang sepadan dengan kata “merdeka” secara gamblang sebagai “bebas”, “berdiri sendiri”, “lepas”, “tidak terikat”, “tidak bergantung”, ataupun “leluasa”. Semua padanan tersebut dapat dimaknai secara positif maupun negatif.

Bagi profesional, memaknai kata “merdeka” sebagai kebebasan berkreasi, berinovasi, berimprovisasi di dalam lingkungan kerja dan segala hal yang mendukung produktivitas. Tidak canggung terhadap posisi dan tingkatan. Sebaliknya menggunakan kebinekaan yang ada sebagai jaringan profesional. Ia bebas berkarya tanpa melanggar norma-norma yang berlaku serta mampu menunjukkan kinerja terbaiknya. Sedikit bicara, banyak bekerja, produktivitas tinggi.

Oleh karenanya kehidupan seorang profesional dikenal sebagai kehidupan yang memerdekakan. Bukan karena ia bebas berbuat semaunya, melainkan karena ia mampu mengelola kebebasan dengan sebaik mungkin. Tidak sedikit profesional yang tidak mengejar harta dan jabatan malah mendapatkannya. Sebaliknya banyak orang yang berlomba untuk mendapatkan keduanya malah tercampakkan dan terpuruk.

Kemerdekaan seharusnya menjadi salah satu nikmat Tuhan yang sangat patut disyukuri, sepenuh jiwa dan raga. Kemelekatan terhadap dunia, baik berupa harta, kedudukan, maupun kepada orang-orang yang dikasihi dapat menjadi rintangan bagi kemerdekaan. Padahal kesemua itu tidak kekal dan tidak dibawa ke dalam lubang kubur. Bagaimanapun, kemerdekaan yang sejati hanyalah meniadakan semua kemelekatan untuk berserah dan membelenggukan diri kepada Tuhan.

parsel hari raya

PARSEL LEBARANMenjelang hari raya tampak kembali di screensaver komputer para pekerja, himbauan tentang bingkisan hari raya. Tidak hanya diperuntukkan kepada pimpinan dan pejabat, namun juga kepada seluruh pekerja. Karena tipisnya perbedaan antara hadiah dengan suap, bagaimanapun bentuknya gratifikasi sebaiknya dihindari. Berikut ini cuplikan kisah nyata dari kejayaan masa lalu sebagai renungan.

Selamat hari raya Idul Fitri! Semoga amal ibadah kita di bulan Ramadan diterima oleh Allah subhanahu wata’ala.

Dikisahkan dari Amir bin Muhajir bahwa suatu hari Umar bin Abdul Aziz (salah seorang khalifah dari Bani Umayah) ingin sekali makan apel. Lalu salah seorang lelaki dari anggota keluarganya menghadiahkan apel kepadanya. Umar berkata, “Betapa harum dan enaknya apel ini.” Setelah itu dia berkata, “Wahai pelayan, kembalikan apel it kepada orang yang telah memberikannya dan sampaikan salam kepadanya, katakan kepadanya: ‘Hadiahmu telah sampai kepadaku sebagaimana yang engkau inginkan.'”

Saya (Amir bin Muhajir) pun berkata, “Wahai Amirul Mukminin, yang memberikan ini adalah anak lelaki pamanmu yang adalah salah seorang lelaki dari keluargamu. Bukankah engkau juga sudah mendengar kalau Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga memakan hadiah yang diberikan kepadanya?” Umar berkata, “Celaka kamu. Hadiah pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah memang benar-benar hadiah. Sedangkan hadiah pada hari ini bagi kami adalah penyuapan.”