tim kerja dan promosi

careerMembangun tim yang berkinerja tinggi membutuhkan kesabaran dan profesionalisme. Sebagaimana kota Roma tidak dibangun dalam semalam, begitupun tim juara, membutuhkan waktu dan kerja keras. Bruce Tuckman, seorang psikolog, pada tahun 1965 memperkenalkan konsep pengembangan tim yang dikenal sebagai forming, storming, norming, dan performing sebagai gambaran tahap-tahap yang dicapai oleh sebuah tim. Pada tahapan forming anggota tim biasanya masih “jaim”, terkadang ragu dan malu-malu. Metode ice breaking sering digunakan untuk menyamakan persepsi dan menentukan arah. Biasanya ketika tim sudah bergerak melaksanakan tugas-tugasnya, guncangan dan konflik dialami.

Sebagaimana badai, jatuh bangun anggota tim sangat dirasakan pada tahap storming ini. Yang dibutuhkan agar tim dapat melalui badai adalah integritas kepemimpinan dan loyalitas profesional yang tinggi. Tahap norming dicapai ketika masing-masing anggota tim mampu memahami peran dan tanggung jawabnya, serta menghormati hirarki kepemimpinan yang terbentuk. Setiap anggota tim merasakan kenyamanan dalam bekerja dan menyelesaikan tugas sesuai permintaan. Alih-alih kembali ke tahap storming, guncangan yang dialami malah memperkukuh posisi dan memacu anggota tim untuk lebih baik lagi. Kepemimpinan yang baik, diharapkan membawa tim kepada tahap performing, yaitu setiap anggota tim bertangung jawab terhadap penyelesaian tugas dengan sebaik-baiknya.

Di tahun 1977, Tuckman menambahkan tahap adjourning kepada konsep ini. Tahap adjourning adalah tahap di mana tim telah mencapai tujuannya dengan paripurna. Merasa puas terhadap pencapaian hasil kerja. Kemudian “sepakat” untuk mempertahankan semangat yang dimiliki, di mana pun mereka bertugas, walau tidak lagi bersama dalam sebuah tim.

Promosi di satu sisi dianggap sebagai peningkatan karir, secara bersamaan menjadi titik kritis yang mengganggu kinerja tim. Promosi begitu pula mutasi, apabila terjadi pada tim yang sedang berada di tahap storming, memperkuat terjadinya demotivasi dan penurunan moral anggota. Jika terjadi pada tim yang sedang dalam tahap normingperforming, justru diapresiasi sebagai pemicu semangat kerja bagi anggota tim lainnya. Terlebih lagi jika promosi tersebut terjadi pada ketua tim, model kepemimpinan yang diaplikasikannya selama ini menentukan seberapa besar apresiasi anggota tim terhadap promosi atau mutasi tersebut.

Di dalam buku “Langkah Pasti Mempertahankan Promosi Melanjutkan Prestasi”, Awan Santosa menuliskan agar bagi siapapun yang telah memperoleh promosi, senantiasa mempersiapkan pengganti. Jangan menunggu hingga terbentuk tim juara, bahkan sesaat setelah promosi ia harus menyusun strategi suksesi. Sebagai ketua tim, sangat diharapkan ia pandai menggunakan kepemimpinan situasional yang sesuai dalam menggiring tim agar tetap berkinerja tinggi, baik bersama maupun tanpanya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s