takut hantu audit

audit-cartoonApa yang terlintas di pikiran dengan kata “audit”? Ada sebagian pihak yang menganggap audit sebagai momok merisaukan: mencari-cari kekeliruan dan penyimpangan. Ada pula yang menganggap audit itu merepotkan: auditor banyak permintaan dokumen atau pertanyaan. Ada lagi yang menganggap audit itu menghantui: biasanya pada temuan audit yang belum ditindaklanjuti, apalagi jika laporan audit menyatakan tidak wajar.

Sebenarnya apa sih audit itu?

Istilah audit diterapkan dalam konteks finansial, dalam bentuk pemeriksaan pembukuan tentang keuangan perusahaan secara berkala atau pengujian efektivitas keluar masuknya uang dan penilaian kewajaran laporan yang dihasilkannya. Bukan berarti audit dirancang untuk mencari ketidakjujuran yang disengaja. Melakukan audit merupakan proses yang kompleks dan memerlukan keterlibatan dalam mengungkapkan kelalaian, kesalahan akuntansi, dan prediksi yang terlalu optimis. Sedikit menggali masalah serius seperti penipuan.

Adakah manfaat dari audit? Audit memiliki manfaat yang luas, di antaranya:

Kesalahan akuntansi dapat diketahui sehingga dapat dilakukan koreksi. Jika audit menemukan kecurangan, maka pelakunya dapat dimintakan pertanggungjawaban. Audit dapat menyarankan perbaikan pada sistem yang dianggap lemah. Audit akan mendorong pekerja untuk bersikap jujur, lebih sedikit potensi kesalahan dan kecurangan.

Bahkan, pada hasil audit yang benar, adil, dan wajar akan: meningkatkan kepercayaan investor pada bisnis yang sedang dijalankan; meningkatkan percaya diri dan ketenangan pikiran, terutama bagi direksi yang bertanggung jawab pada keuangan perusahaan; meyakinkan bahwa sistem pengendalian internal cukup kuat dan bekerja dengan baik; serta meningkatkan kepercayaan publik pada organisasi.

Jadi, apakah masih takut dengan audit?

@rh

memahami gratifikasi

gravityTak sedikit orang yang terpeleset lisannya ketika menyebutkan gratifikasi dengan gravitasi. Walaupun secara lahir tidak memiliki hubungan sama sekali, namun di antara keduanya memiliki kemiripan baik vokal maupun pengertian. Istilah gravitasi diperkenalkan oleh seorang sarjana berkebangsaan Inggris, Sir Isaac Newton, ketika ia mendapati fenomena buah apel yang jatuh dari pohonnya, dari atas ke bawah. Sedangkan gratifikasi berlaku sebaliknya, dari bawah ke atas.

Gratifikasi biasanya diberikan oleh pihak yang posisinya inferior kepada pihak yang posisinya superior. Baik dilakukan oleh orang per orang maupun atas nama organisasi atau perusahaan. Serupa dengan suap, gratifikasi diberikan dengan maksud memfasilitasi kepentingan dan urusan.

Apabila suap diberikan sebelum melakukan sebagai pelicin, maka gratifikasi diberikan belakangan dan diungkapkan sebagai tanda terima kasih. Akan tetapi keduanya sama-sama berdampak kepada ekonomi biaya tinggi. Hal ini karena komponen suap atau gratifikasi akan dimasukkan sebagai biaya proyek, baik secara nyata maupun tersembunyi.

Praktik gratifikasi akan membuka peluang yang lebih besar pada suap dan korupsi. Oleh karenanya dengan mencegah gratifikasi, akan menyelamatkan organisasi secara mikro maupun perekonomian secara makro. Pedoman pengendalian gratifikasi serta unit pengendalian gratifikasi akan memiliki peran yang sangat penting untuk menjaga organisasi dari potensi kecurangan tersebut.

@dj

mitos lantai 40

workspace

ilustrasi ruang kerja

Selama tiga pekan telah bertengger di situs dalam jaringan, berita mengenai ruangan mewah berukuran setengah lapangan bola. Bahkan oleh sebuah situs, berita tersebut dikompilasi dalam dua balada masing-masing berjumlah 8 dan 9 halaman.

Dikabarkan bahwa ruangan mewah tersebut berfungsi sebagai ruang kerja kepala, untuk menerima tamu-tamu asing, dan tempat pertemuan privat dengan para pemangku kepentingan. Disebutkan pula bahwa ruangan tersebut memiliki fasilitas ruang kerja, kamar tidur, kamar mandi, ruang makan, furnitur bergaya italia dan home theater. Ruangan ini berada pada lantai 40 di sebuah gedung pencakar langit yang terdapat di bilangan Kuningan Barat. Diperkirakan di lantai tersebut terdapat 3 ruangan mewah dengan masing-masing berukuran luas 1000 m2.

Telah banyak yang berpendapat mengenai ruangan mewah ini, asal muasalnya, komentar maupun rencana ke depan akan diubah dan difungsikan sebagai apa. Tentu saja perubahan itu diharapkan memberi manfaat yang lebih baik dan fungsional.
Tetapi ada hal yang menarik, spesifikasi gedung berlantai 57 itu kenyataannya memiliki rata-rata luas ruangan pada setiap lantainya hanya 2185 m2. Fakta yang lebih mengejutkan lagi adalah di gedung itu tidak ada lantai 40, sebagaimana tidak ada lantai berakhiran angka 4 seperti 4, 14, 24, dan seterusnya. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa berita mengenai ruangan mewah seluas 3000 m2 di lantai 40 tidak valid.

😀

pentingnya visi

housePada sebuah simulasi, tergambar sebuah kotak di atas kertas flip. Hadirin diminta berpartisipasi melengkapi gambar. Setiap orang menambahkan komponen pada kotak sesuai persepsi masing-masing. Lalu jadilah sebuah gambar yang tidak jelas, tidak dapat disimpulkan sebagai gambar apa.

Pada kertas flip yang lain, juga tergambar sebuah kotak. Tertulis di atas kotak tersebut sebuah kata, “Rumah”. Hadirin diminta kembali berpartisipasi melengkapi gambar. Maka setiap orang menambahkan komponen pada kotak, masih sesuai persepsi masing-masing. Sehingga jadilah gambar sebuah rumah apa adanya.

Bandingkan lagi jika yang tertulis adalah kalimat, “Rumah tinggal 2 lantai dengan 4 kamar tidur, 2 kamar mandi, 1 ruang tamu, 1 ruang makan, 1 dapur, 1 ruang servis, dilengkapi carport dan taman”. Tentu yang akan tergambar adalah sebuah rumah lengkap dengan denah.

Sebuah visi seperti kata-kata atau kalimat yang tertulis di atas kotak. Persepsi dari setiap partisipan dapat diarahkan melalui kata-kata itu. Visi yang jelas dapat mengubah persepsi menjadi harapan. Semakin jelas maksudnya, akan semakin mudah membayangkan wujudnya dan menggerakkan partisipan untuk membuat gambar sesuai harapan.

Begitupula kondisi organisasi, tanpa visi yang jelas, setiap orang di dalam organisasi akan bergerak sesuai persepsi masing-masing, akibatnya pencapaian organisasi tidak akan kemana-mana. Organisasi yang sukses akan memiliki visi yang jelas. Berangkat dari itu, misi tersusun dalam bentuk strategi pencapaian tujuan-tujuan. Rencana kerja kemudian dibuat dalam bentuk yang lebih nyata untuk kemudahan dalam mewujudkan visi.

@my

enough is enough

enough“Cukup sudah!”

“Stop main-mainnya!”

Dua frasa tersebut menjadi popular belakangan ini, karena dinyatakan oleh seorang pejabat publik yang merasa risau dengan apa yang menurut persepsinya tidak layak dilakukan oleh sebuah lembaga yang menyandang kepentingan vital. Berbagai tanggapan pun bergulir, ada yang berkata, “kesannya selama ini kita hanya bermain-main?” Yang lain berkata, “kerja serius aja dibilang main-main?” Ada pula yang mengatakan, “Gara-gara satu dua oknum yang bermain-main, kita semua kena imbasnya.”

Bagaimanapun, pernyataan sudah disampaikan di ruang publik. Tidak mungkin dijilat kembali. Sentimen negatif merupakan hal yang berada di luar kendali. Melawan balik juga bukan strategi yang menguntungkan. Moral organisasi pun melorot. Padahal apapun yang sudah terjadi, biarlah terjadi. 180 derajat berkebalikan daripada itu, selalu ada hal yang bisa dibingkai ulang. Setiap individu memiliki kendali pada persepsinya masing-masing.

Medan negatif dari kedua frasa tersebut dapat dibalik menjadi medan yang positif. Yaitu dengan membuat kalimat presuposisi yang mengokohkan sikap positif seperti, “kalau selama ini dianggap bermain-main, maka ke depan kita harus lebih serius!” Atau kalimat lain, “kita bekerja untuk kepentingan vital, mari kita buktikan bahwa kita serius!” Begitu pula dengan kalimat, “Perhatikan lingkungan kerja kita dengan lebih baik, agar kita dapat bekerja dengan tenang dan nyaman.”

Bagaimana menurut anda?