enough is enough

enough“Cukup sudah!”

“Stop main-mainnya!”

Dua frasa tersebut menjadi popular belakangan ini, karena dinyatakan oleh seorang pejabat publik yang merasa risau dengan apa yang menurut persepsinya tidak layak dilakukan oleh sebuah lembaga yang menyandang kepentingan vital. Berbagai tanggapan pun bergulir, ada yang berkata, “kesannya selama ini kita hanya bermain-main?” Yang lain berkata, “kerja serius aja dibilang main-main?” Ada pula yang mengatakan, “Gara-gara satu dua oknum yang bermain-main, kita semua kena imbasnya.”

Bagaimanapun, pernyataan sudah disampaikan di ruang publik. Tidak mungkin dijilat kembali. Sentimen negatif merupakan hal yang berada di luar kendali. Melawan balik juga bukan strategi yang menguntungkan. Moral organisasi pun melorot. Padahal apapun yang sudah terjadi, biarlah terjadi. 180 derajat berkebalikan daripada itu, selalu ada hal yang bisa dibingkai ulang. Setiap individu memiliki kendali pada persepsinya masing-masing.

Medan negatif dari kedua frasa tersebut dapat dibalik menjadi medan yang positif. Yaitu dengan membuat kalimat presuposisi yang mengokohkan sikap positif seperti, “kalau selama ini dianggap bermain-main, maka ke depan kita harus lebih serius!” Atau kalimat lain, “kita bekerja untuk kepentingan vital, mari kita buktikan bahwa kita serius!” Begitu pula dengan kalimat, “Perhatikan lingkungan kerja kita dengan lebih baik, agar kita dapat bekerja dengan tenang dan nyaman.”

Bagaimana menurut anda?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s