lebih cepat atau lebih lambat

Ketika dunia digital diterapkan di meja kerja, diharapkan menjadi lebih cepat, lebih baik dan lebih pintar. Salah satunya adalah penerapan disposisi elektronik untuk meneruskan surat atau pesan dari atasan ke level pekerja. Disposisi elektronik yang pada awalnya dilakukan melalui e-mail kemudian dikembangkan sehingga dapat dilakukan melalui aplikasi online adalah hal yang patut diapresiasi. Capaian ini terjadi hanya dalam 2 tahun saja di bawah pimpinan yang sangat peduli dengan kecanggihan teknologi informasi. Aplikasi online dapat diakses dari mana saja selama gawai yang digunakan tersambung ke jaringan internet.

Kegiatan rutin pagi hari dimulai dengan membuka aplikasi ini, meneruskan informasi yang dianggap perlu, serta membersihkan daftar tugas yang belum selesai dikerjakan. Sayangnya masih banyak pengguna yang tidak memanfaatkan aplikasi secara baik. Hal ini terlihat dari banyaknya informasi yang sama terkirim berkali-kali, pesan atau instruksi yang tidak jelas. Tak ayal, walaupun elektronik, disposisi masih bersifat to dispose. Rangkaian prosedur aplikasi yang perlu lebih efisien untuk sebuah tugas dibaca, diterima dan diteruskan atau selesai. Alih-alih lebih cepat, pekerjaan membuka aplikasi pun membutuhkan ekstra upaya dan waktu.

takut hantu audit

audit-cartoonApa yang terlintas di pikiran dengan kata “audit”? Ada sebagian pihak yang menganggap audit sebagai momok merisaukan: mencari-cari kekeliruan dan penyimpangan. Ada pula yang menganggap audit itu merepotkan: auditor banyak permintaan dokumen atau pertanyaan. Ada lagi yang menganggap audit itu menghantui: biasanya pada temuan audit yang belum ditindaklanjuti, apalagi jika laporan audit menyatakan tidak wajar.

Sebenarnya apa sih audit itu?

Istilah audit diterapkan dalam konteks finansial, dalam bentuk pemeriksaan pembukuan tentang keuangan perusahaan secara berkala atau pengujian efektivitas keluar masuknya uang dan penilaian kewajaran laporan yang dihasilkannya. Bukan berarti audit dirancang untuk mencari ketidakjujuran yang disengaja. Melakukan audit merupakan proses yang kompleks dan memerlukan keterlibatan dalam mengungkapkan kelalaian, kesalahan akuntansi, dan prediksi yang terlalu optimis. Sedikit menggali masalah serius seperti penipuan.

Adakah manfaat dari audit? Audit memiliki manfaat yang luas, di antaranya:

Kesalahan akuntansi dapat diketahui sehingga dapat dilakukan koreksi. Jika audit menemukan kecurangan, maka pelakunya dapat dimintakan pertanggungjawaban. Audit dapat menyarankan perbaikan pada sistem yang dianggap lemah. Audit akan mendorong pekerja untuk bersikap jujur, lebih sedikit potensi kesalahan dan kecurangan.

Bahkan, pada hasil audit yang benar, adil, dan wajar akan: meningkatkan kepercayaan investor pada bisnis yang sedang dijalankan; meningkatkan percaya diri dan ketenangan pikiran, terutama bagi direksi yang bertanggung jawab pada keuangan perusahaan; meyakinkan bahwa sistem pengendalian internal cukup kuat dan bekerja dengan baik; serta meningkatkan kepercayaan publik pada organisasi.

Jadi, apakah masih takut dengan audit?

@rh

memahami gratifikasi

gravityTak sedikit orang yang terpeleset lisannya ketika menyebutkan gratifikasi dengan gravitasi. Walaupun secara lahir tidak memiliki hubungan sama sekali, namun di antara keduanya memiliki kemiripan baik vokal maupun pengertian. Istilah gravitasi diperkenalkan oleh seorang sarjana berkebangsaan Inggris, Sir Isaac Newton, ketika ia mendapati fenomena buah apel yang jatuh dari pohonnya, dari atas ke bawah. Sedangkan gratifikasi berlaku sebaliknya, dari bawah ke atas.

Gratifikasi biasanya diberikan oleh pihak yang posisinya inferior kepada pihak yang posisinya superior. Baik dilakukan oleh orang per orang maupun atas nama organisasi atau perusahaan. Serupa dengan suap, gratifikasi diberikan dengan maksud memfasilitasi kepentingan dan urusan.

Apabila suap diberikan sebelum melakukan sebagai pelicin, maka gratifikasi diberikan belakangan dan diungkapkan sebagai tanda terima kasih. Akan tetapi keduanya sama-sama berdampak kepada ekonomi biaya tinggi. Hal ini karena komponen suap atau gratifikasi akan dimasukkan sebagai biaya proyek, baik secara nyata maupun tersembunyi.

Praktik gratifikasi akan membuka peluang yang lebih besar pada suap dan korupsi. Oleh karenanya dengan mencegah gratifikasi, akan menyelamatkan organisasi secara mikro maupun perekonomian secara makro. Pedoman pengendalian gratifikasi serta unit pengendalian gratifikasi akan memiliki peran yang sangat penting untuk menjaga organisasi dari potensi kecurangan tersebut.

@dj

mitos lantai 40

workspace

ilustrasi ruang kerja

Selama tiga pekan telah bertengger di situs dalam jaringan, berita mengenai ruangan mewah berukuran setengah lapangan bola. Bahkan oleh sebuah situs, berita tersebut dikompilasi dalam dua balada masing-masing berjumlah 8 dan 9 halaman.

Dikabarkan bahwa ruangan mewah tersebut berfungsi sebagai ruang kerja kepala, untuk menerima tamu-tamu asing, dan tempat pertemuan privat dengan para pemangku kepentingan. Disebutkan pula bahwa ruangan tersebut memiliki fasilitas ruang kerja, kamar tidur, kamar mandi, ruang makan, furnitur bergaya italia dan home theater. Ruangan ini berada pada lantai 40 di sebuah gedung pencakar langit yang terdapat di bilangan Kuningan Barat. Diperkirakan di lantai tersebut terdapat 3 ruangan mewah dengan masing-masing berukuran luas 1000 m2.

Telah banyak yang berpendapat mengenai ruangan mewah ini, asal muasalnya, komentar maupun rencana ke depan akan diubah dan difungsikan sebagai apa. Tentu saja perubahan itu diharapkan memberi manfaat yang lebih baik dan fungsional.
Tetapi ada hal yang menarik, spesifikasi gedung berlantai 57 itu kenyataannya memiliki rata-rata luas ruangan pada setiap lantainya hanya 2185 m2. Fakta yang lebih mengejutkan lagi adalah di gedung itu tidak ada lantai 40, sebagaimana tidak ada lantai berakhiran angka 4 seperti 4, 14, 24, dan seterusnya. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa berita mengenai ruangan mewah seluas 3000 m2 di lantai 40 tidak valid.

😀

boleh bintang lima lagi

Di antara pemeo yang selalu berlaku adalah “beda pimpinan beda kebijakan”. Hanya dalam waktu 5 bulan saja, begitu kepemimpinan berganti, kebijakan penggunaan hotel berbintang lima diberlakukan kembali. Perubahan ini sepertinya menunjukkan bahwa telah diperoleh hasil evaluasi yaitu tidak ada relasi antara peringkat bintang dengan pemborosan sebagaimana diusung pada waktu lalu. Beberapa optimasi yang dilakukan seperti menghilangkan fasilitas minibar dan penyesuaian tingkatan kamar, paling tidak telah “memaksa” perubahan sikap dari sukacita menjadi sukarela. Semoga saja dengan diperbolehkannya kembali menggunakan hotel bintang lima sikap berhemat yang telah dipupuk dalam seumur jagung tetap dipelihara dengan baik.