you can’t go

Beberapa kali, kita tidak bisa pergi mengikuti agenda yang sudah direncanakan jauh hari, terutama agenda yang bukan kita sebagai tuan rumahnya, hanya karena atasan. Walaupun sebelumnya sudah dikomunikasikan dan didukung, kondisi-kondisi yang muncul ketika mendekati waktu acara mampu menggeser dukungan menjadi penolakan. Atasan akan menyampaikan berbagai alasan yang meyakinkan kita untuk mengikuti pendapatnya: “you can’t go!”

pimpinan dan pejabat

Masih suasana hari raya, flyer mengenai gratifikasi meramaikan screen saver komputer para pekerja, tersebut bahwa pimpinan dan pejabat (level manajer ke atas) di tempat saya bekerja tidak diperkenankan menerima segala bentuk gratifikasi dari bawahan, rekanan maupun institusi lain. Apabila berbentuk makanan maka boleh disalurkan kepada kaum duafa melalui panti atau yayasan terdaftar dengan tetap mencatat bentuk dan nilainya untuk dilaporkan melalui formulir gratifikasi.

Bahkan kantor saya menjalin kerja sama dengan KPK untuk pengendalian gratifikasi tersebut. Hal ini merupakan langkah nyata memerangi korupsi. Tetapi sayup-sayup terdengar bisikan di belakang saya, “apabila yg dilarang hanya pimpinan dan pejabat maka karyawan biasa boleh dong menerima gratifikasi?”

amanah, diemban atau dikhianati?

2ama·nah 1 n sesuatu yg dipercayakan (dititipkan) kpd orang lain: kemerdekaan Indonesia merupakan — dr para pahlawan bangsa; 2 n keamanan; ketenteraman: bahagia dan — yg sukar dicari; 3 a dapat dipercaya (boleh dipercaya); setia: temanku adalah orang –; meng·a·ma·nah·kan v mempercayakan (kpd); menitipkan: saudagar itu ~ hartanya kpd saudaranya; peng·a·ma·nah n orang yg mengamanahkan

Menurut KBBI di atas, makna kata amanah terhubung dengan titipan atau kepercayaan. Seseorang yang dititipi atau dipercayakan sama saja dengan orang yang diberi amanah. Amanah itu dapat berbentuk macam-macam, apakah berupa barang, jabatan, pekerjaan, hingga orang. Petugas parkir dititipi kendaraan, direktur dan staf suatu perusahaan dititipi jabatan, office boy dititipi pekerjaan. Bahkan Allah mengamanahkan istri kepada suami, dan mengamanahkan anak-anak kepada orang tua. Para rasul juga telah mendapat amanah kerasulan yaitu untuk mendakwahkan tauhid kepada seluruh umat manusia.

Siapapun yang mendapat titipan, mendapat kepercayaan dari yang menitipkan (pengamanah). Maka bergantung kepada penerima amanah itu sendiri untuk mengembannya dengan penuh tanggung jawab, atau mengkhianatinya dengan cara masa bodoh dan tidak peduli dengan amanah tersebut. Namun barangsiapa yang mengkhianati amanah, maka cukuplah peringatan Allah bagi mereka:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ لاَ تَخُونُواْ اللّهَ وَالرَّسُولَ وَتَخُونُواْ أَمَانَاتِكُمْ وَأَنتُمْ تَعْلَمُونَ

QS Al Anfaal, 8:27. Hai orang-orang yang  beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga)  janganlah kamu mengkhianati amanah-amanah yang dipercayakan kepadamu, sedang  kamu mengetahui.

kejatuhan durian runtuh

Peribahasa yang sudah sangat jarang didengar ini sempat divisualisasikan dengan sangat menarik oleh salah satu bank nasional dalam promo programnya. Pada film animasi besutan anak negeri jiran [1] mengambil latar cerita di kampung durian runtuh. Agaknya hendak memopulerkan kembali peribahasa yang aslinya berbunyi “bagai mendapat durian runtuh”, bermakna “mendapat keuntungan yg tidak tersangka-sangka atau tidak dengan bersusah payah”.
Sempat saya mengeposkan tulisan mengenai disposisi [2] di blog ini. Senada dengan tulisan tersebut, tetapi bukan masalah surat menyurat, kali ini mengenai masalah pelimpahan tugas dan kewenangan.

Pada suatu waktu sebuah tugas digagas oleh seorang atasan kemudian diperintahkan kepada para bawahannya untuk dilaksanakan. Para bawahan sepakat mengusulkan seseorang ditunjuk sebagai koordinator. Kebetulan di antara bawahan tersebut merupakan orang baru di lingkungan kerja kami, sebut saja si E. Setelah mendapatkan arahan dari atasan, si E menerima tugas sebagai koordinator dengan lapang hati.

Sayang, dengan minimmnya pengetahuan administratif dan konektivitas yang dimiliki, dia mengalami kendala dalam menjalankan tugas tersebut. Lalu dia menunjuk seseorang, kita sebut saja si A untuk membantunya. Si A menyelesaikan tugas dalam waktu yang tidak lama. Demi melihat kemampuan si A, maka si E, atasannya serta kolega yang lain melimpahkan berkas-berkas yang diperlukan untuk dikoordinasikan oleh si A. Jadilah si A secara tiba-tiba “menguasai” seluruh bahan tugas. Sehingga suatu saat si A tidak masuk kantor karena sakit, ia menjadi “the most wanted person in the world” karena pada saat itu sang atasan ditagih janjinya oleh atasannya.

Padahal si A selama melaksanakan tugas itu selalu memberikan berita terbaru dan menembuskan pembaharuan bahan (baca: update) kepada setiap pemangku kepentingan (baca: stake holder) yang ada. Si A adalah penerima “durian runtuh”, bukan dalam konteks rejeki tetapi dalam konteks kiasan yang bermakna sebenarnya: “kesakitan”. Tentu saja siapapun yang kejatuhan durian runtuh akan merasakan sakitnya terkena kulit durian.

Namun begitu, si A menyadari bahwa pelimpahan tugas yang diterimanya adalah sebuah amanat yang harus dikerjakannya. Selain karena ia khawatir akan peringatan Allah mengenai orang-orang yang mengkhianati amanat [3], ia menyadari bahwa pelimpahan tugas itu dapat menambah portofolio pengalaman kerjanya yang tentu saja kredit yang baik apabila ia dapat menyelesaikan tugas tersebut dengan baik pula.


[1] ji·ran n 1 orang yg tinggal sebelah-menyebelah atau dekat (sekitar) rumah; tetangga: – yg terdekat; 2 negara tetangga, msl Malaysia atau Brunei Darussalam; [KBBI]

[2] dis·po·si·si n 1 Adm pendapat seorang pejabat mengenai urusan yg termuat dl suatu surat dinas, yg langsung dituliskan pd surat yg bersangkutan atau pd lembar khusus; 2 Dok kecenderungan untuk mendapatkan suatu penyakit, kelainan temperamen atau kelainan watak [KBBI]

[3] “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui.” (QS Al Anfaal, 8: 27)